Makanan Tradisional, Nikmat dan Sehat
Globalisasi tampaknya sudah merasuk dalam setiap segi kehidupan kita, termasuk urusan makanan. Coba saja tanya pada anak-anak Anda apa makanan favorit mereka? Biasanya mereka lebih fasih menyebut pizza, fried chicken, atau crepes, dibandingkan makanan tradisional seperti bakpia, klepon, atau pepes.
Tak bisa dipungkiri makin banyaknya jenis makanan asal mancanegara maupun olahan pabrik membuat anak-anak kita lebih terekspos dengan jenis makanan tersebut. Apalagi biasanya makanan-makanan tersebut dikemas dengan menarik atau disajikan di resto cepat saji dengan berbagai promosi atau hadiah yang tentu menarik buat anak-anak. Karena sifat anak-anak yang selalu ingin mencoba hal baru dan mengikuti tren (apa yang dilakukan teman sebayanya), tak heran bila mereka lebih tertarik pada jenis makanan tersebut. Bisa ditebak, makanan tradisional makin ditinggalkan, bahkan banyak yang tak lagi dibuat dan lama-lama ‘menghilang’ karena tak adanya peminat.
Kondisi ini tentu sangat disayangkan, pasalnya makanan tradisional adalah suatu aset budaya yang sepatutnya harus terus dijaga keberadaannya. Penggunaan bahan dan rempah-rempah dari negeri sendiri, menghasilkan citarasa yang khas dan tidak dimiliki negara lain. Justru kelebihan inilah yang seharusnya mampu ”dijual” dan dijadikan kebanggaan Indonesia. Lihat saja Italia yang mampu menjadikan pizza sebagai makanan populer di seluruh dunia, atau Meksiko yang mampu membuat tortilla sukses menembus pasar Amerika.


